22 August 2014

Renungan Hari Jumat 22 Agustus 2014


Hukum kasih ialah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi serta mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. 2000 tahun yang lalu totalitas kasih itu terealisasi di kayu salib. Yesus yang mengasihi manusia telah menyerahkan diri-Nya di kayu salib. dari salib manusia bisa belajar cinta, pengorbanan, peduli dan solidaritas.

 Suatu hari Abraham Lincoln mengunjungi rumah sakit penampung tentara Amerika Serikat akibat korban perang. Ia berjalan dari bangsal (tempat tidur) yang satu ke bangsal yang lain. Ia berhenti pada salah satu bangsal dan melihat seorang tentara muda yang kondisinya cukup parah. Ia mendekati dan berkata "Anakku apa yang engkau inginkan saat ini?" Pemuda itu berkata "Saya ingin menulis surat untuk ibuku". Kata presiden "Sekarang ucapkan kata-kata kepadaku supaya aku dapat menulisnya, dan aku berjanji setelah ini kantorku akan segera mengurusnya supaya suratmu dapat sampai kepada ibumu". Lalu sang presiden berkata lagi "Apakah masih ada yang lain?" Tentara muda itu berkata : "Pak, aku sangat kesepian peluklah aku supaya aku tidak merasa kesepian lagi". Dan sang presiden mengiakan permintaannya. Beberapa saat setelah memeluk tentara muda itu, tentara itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Saudara-saudari yang terkasih Injil pada hari ini berbicara soal hukum kasih. Dalam realita kehidupan apakah kita sudah menerapkan hukum kasih di dalam hidup kita, kasih untuk mencintai Allah atau kasih untuk mencintai sesama yang lain. Cerita di atas menggambarkan kasih yang begitu besar dari sang presiden terhadap tentaranya, yang rela meluangkan waktunya untuk memberi penghiburan. Suatu bukti kasih yang nyata yang seharusnya kita lakukan untuk sesama kita. Kita bertanya diri apakah kita sudah menerapak hukum kasih di dalam kehidupan kita atau belum?

BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon