02 October 2014

Renungan Hari Sabtu 4 Oktober 2014

Renungan Hari Sabtu 4 Oktober 2014, Renungan Harian, Santo Katolik Miskin di Hadapan Allah

    Hari ini Gereja memberikan penghormatan kepada Santo Fransiskus Asisi. Keberaniannya untuk hidup miskin secara radikal memberi aura baru dalam tubuh Gereja. Kekhasan hidupnya ini memberi inspirasi baru bagi banyak orang. Sampai sekarang, banyak lembaga hidup bakti meneladani hidup miskin ala Santo Fransiskus ini. Jika direnungkan lebih dalam, apa itu hidup miskin di hadapan Allah? Apakah manusia tidak boleh kaya dan harus hidup dalam garis kemiskinan?

    Pertama-tama harus disadari bahwa kekayaan adalah karunia Allah. meskipun demikian, Allah tidak menghendaki manusia melekatkan diri pada kekayaan (harta) itu. Kenyataan ini jangan terjadi: Allah bukan titik sentral (pusat) hidup manusia. Namun, apakah orang miskin tidak mempunyai kelekatan semacam ini? kelekatan terhadap harta bisa terjadi pada orang kaya atau pun orang miskin. Lihat saja gara-gara uang Rp.1000,- terjadi pembunuhan.

    Maksud hidup miskin adalah menjadikan Allah sebagai harta yang paling berharga.. Bukan uang, pangkat, status sosial, tetapi Allah. 'Manusia yang miskin' harus meletakkan dasar dan pusat hidupnya pada Allah. Lihatlah Yesus hari ini. Dalam Roh Kudus, Ia bergembira dan bersyukur kepada Allah. Ia bersyukur karena orang-orang kecil, orang-orang sederhana, atau orang-orang miskin yang mampu memahami rahasia Diri-Nya. Hanya merekalah yang mengakui-Nya sebagai Mesias, Sang Penyelamat dunia. Bukan mereka yang digelari dengan nama besar dan status sosial yang terpadang dalam masyarakat.

    Marilah mengakui kemiskinan ('kekecilan') kita di hadapan Allah dan mengosongkan diri sehingga Allah mampu melaksanakan kehendak-Nya melalui diri kita. Dan percayalah, kita mampu mengusir kuasa setan seperti ketujuh puluh murid.

Lentera Batin

BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon