Santo Katolik 1.0 Aplikasi Android

10 December 2014

Renungan Hari Sabtu 13 Desember 2014

Renungan Hari Sabtu !3 Desember 2014, Renungan Harian, Santo Katolik

Renungan Hari Sabtu 13 Desember 2014


Kemuliaan dan Penolakan


    Injil hari ini merupakan kelanjutan dari kisah tentang peristiwa transfigurasi Yesus di Gunung Tabor. Peristiwa ini hendak menegaskan kesetaraan Yesus dengan dua tokoh besar dalam Perjanjian Lam, yaitu Musa dan Elia. Sama seperti Musa, Yesus memberikan hukum baru untuk menggenapi Hukum Taurat, yaitu perintah saling mengasihi. Sama seperti Elia, Yesus mempunyai daya yang agung untuk menyembuhkan orang sakit dan membangkitan orang mati. Dalam peristiwa transfigurasi itu, kemuliaan Yesus dinyatakan. Dialah Sang Mesias yang dinantikan oleh Bangsa Israel.

    Kemuliaan Yesus itu berbanding terbalik dengan kisah selanjutnya yang akan kita renungkan hari ini. Ayat 10 merupakan pertanyaan dari tradisi Kitab Maleakhi (4:5-6). Tradisi ini mengatakan bahwa Elia akan kembali dari surga sebelum kedatangan Kerajaan Allah. Ayat 11-12 adalah jawaban Yesus yang ditujukan untuk menerima tradisi itu secara sah, tetapi menambahkan bahwa Elia sudah datang dalam pribadi Yohanes Pembaptis. Dalam kedua ayat itu, Yesus juga hendak memberikan gambaran masa depan tentang perlakuan yang akan Dia terima dari bangsa terpilih itu. Sama seperti Yohanes Pembaptis, Yesus akan menerima penolakan, mengalami sengsara, dan harus mati di kayu salib. Seakan-akan kemuliaan Yesus tidak menjamin hidup-Nya, toh Ia harus mati di kayu salib.

    Lalu pelajaran apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini? Mengalami pujian sekaligus menerima hinaan adalah bagian dari hidup kita yang tidak mungkin dihindari. Dalam satu kesempatan kita bisa menerima pujian atas bakat atau prestasi kita sekaligus bisa menerima olokan, hinaan, serta cercaan dari orang lain, entah karena rasa iri atau sentimen pribadi. Sama seperti Yesus, kita tidak diperkenankan untuk menyerah pada kenyataan itu. Kita dituntut untuk terus berjuang menghadapi kenyataan itu. Percayalah, pada waktunya nanti kita boleh dianggap layak untuk masuk dalam kemuliaan abadi besama Bapa di surga.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon