04 March 2015

Renungan Hari Minggu 8 Maret 2015

Renungan Hari Minggu 8 Maret 2015, Renungan Harian, Santo Katolik

Renungan Hari Minggu 8 Maret 2015


Mari Membarui Diri


    Injil Yohanes disebut juga sebagai kitab tanda. Setidaknya, dalam Injil Yohanes ada tujuh judul yang berbicara tentang tanda. Ketujuh judul itu dikemas dalam tujuh kisah. Ketujuh kisah tersebut berbentuk nasihat dan mukjizat. Beberapa kisah yang berbicara tentang tanda, antara lain: (1) Kisah tentang Mukjizat Yesus di Kana, (2) Kisah tentang Bait Allah, (3) Kisah tentang Yesusu dan Nikodemus, dan (4) Kisah tentang Yesus dan Perempuan Samaria. Keempat kisah ini merupakan rangkaian kesatuan yang mau menyampaikan satu pesan: Yesus datang ke dunia membawa perubahan. Pesan ini sama dengan apa yang diwartakan oleh Rasul Paulus, "Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor 5:17).

    Umat Allah yang terkasih, Injil hari ini berbicara tentang pembersihan Bait Allah. Tindakan Yesus  yang mengusir para pedagang lembu, kambing, domba, merpati, dan penukar-penukar uang merupakan sebuah tidakan simbolis (bertanda). Apa yang hendak disampaikan oleh Yesus melalui tindakan tersebut? Yesus hendak menyampaikan satu pesan ini: Bait Allah akan segera dihancurkan. Kita bisa mengingatnya dalam catatan sejarah yang terjadi pada tahun 70 M, yaitu peristiwa penghancuran Bait Allah oleh pasukan Titus dari Roma. Kehancuran Bait Allah akan diperbarui dengan tubuh Kristus yang bangkit.  Kehadiran Allah tidak lagi dinyatakan dalam Bait-Nya di Yerusalem. Namun, Kehadiran Allah hadir secara nyata dalam Diri Yesus Kristus. Kehadiran Allah secara baru ini mau menyampaikan nilai universalitas keselamatan.

    Umat Allah yang terkasih, pelajaran apa yang dapat kita petik? Yesus hendak menyampaikan satu pesan kepada kita, yaitu mari membarui diri. Mengapa? Allah sekarang hadir dalam Diri-Nya untuk semua manusia. Keselamatan sekarang bisa dirasakan oleh semua manusia. Keselamatan yang ditawarkan-Nya itu akan membawa manusia yang menerima-Nya kepada kebahagiaan kekal di surga. Syaratnya? Mari membarui diri.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon