28 March 2015

Renungan Hari Rabu 1 April 2015

Renungan Hari Rabu 1 April 2015, Renungan Harian, Santo Katolik

Renungan Hari Rabu 1 April 2015


Belajar dari Yudas Iskariot


    Judul renungan ini agak sulit saya terima pada awalnya. Saya berpikir, apa yang dapat dipetik dari Yudas, sang penghianat itu. Lalu, apa yang saya buat? Saya mencoba merenung sejenak, meminta bantuan Roh Kudus. Hasilnya? Setidaknya ada beberapa hal yang harus saya pelajari dari Yudas. Memahami Yudas Iskariot berarti kita diajak untuk memahami pola pikir Yudas tentang Yesus.

    Rupanya, ia belum mampu mengerti siapakah Yesus itu sesungguhnya. Ia malah menganggap Yesus hanyalah sebagai orang yang mengaku diri sebagai Mesias. hal ini lazim terjadi pada masa sebelum kedatangan Yesus. Banyak orang yang mengaku sebagai Sang Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Nasib mereka pada umumnya tragis, dicap sebagai pemberontak oleh bangsa Romawi dan kemudian dihukum mati. Mana bukti bahwa Yesus bersikap demikian? Pada Mat 26:25, Yudas Iskariot terang-terangan menyebut Yesus hanya sebagai seorang rabbi (artinya:Guru). hal ini berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh seorang murid pada Mat 26:22, Yesus disebut sebagai Tuhan. bagi Yudas, Yesus hanyalah seorang Guru bukan sebagai Sang Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Maka, Yudas tidak segan-segan 'menjual' Yesus kepada imam-imam kepala. Satu hal yang terpikirkan olehnya: Yesus dapat mendatangkan keuntungan baginya (berupa 30 uang perak).

    Apa yang dapat kita petik? Kita diingatkan oleh kerakusan Yudas. Kita diajak untuk melihat manusia sebagai ciptaan luhur yang tidak boleh dieksploitasi (dimanfaatkan secara berlebihan). Betapapun jahatnya manusia, ia mempunyai stu kodrat yang tak terelakkan. Semua manusia adalah citra dari Allah. Mari kita bermenung. Bagaimana saya memperlakukan sesamaku manusia? Apakah  saya sudah  mengeksploitasi mereka dengan keegoiasan saya? kalau kita memaksakan kehendak pribadi pada orang lain, apa bedanya dengan Yudas. Atau jangan-jangan kita sudah ikut menjual Yesus demi kepentingan pribadi.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon