25 May 2015

Renungan Hari Jumat 29 Mei 2015

Renungan Hari Jumat 29 Mei 2015, Renungan Harian, Santo Katolik
Renungan Hari Jumat 29 Mei 2015

Buah

    Manusia adalah makhluk dinamis yang selalu bergerak untuk mencapai suatu kesempurnaan. Hal tersebut tampak dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam dirinya. Manusia ingin mencapai kesempurnaan baik kesempurnaan jasmani maupun rohani. Kesempurnaan itu sejatinya akan dapat dilihat dari banyaknya buah yang dihasilkan.

    Kisah Injil hari ini berbicara tentang pohon ara yang tidak berbuah dan tentang Yesus yang mengacaukan Bait Allah. Kisah ini terjadi tatkala Yesus bersama dengan murid-murid-Nya berangkat dari Betania menuju Yerusalem. Dikisahkan, Yesus lapar namun ketika Ia menghampiri pohon ara. Ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali daunnya. Kemudian Yesus berkata: "Jangan lagi seorangpun makan buahnya selama-lamanya." Perkataan Yesus itu rupanya didengar oleh Petrus. Maka keesokan harinya Petrus mengatakan: "guru lihatlah pohon ara yang Kau kutuk itu sudah mengering."

    Yang menjadi pertanyaan di sini ialah apa yang ingin disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya? Pohon ara adalah arti simbolik dari orang-orang Israel di hadapan Allah. Mereka seolah-olah mengering tidak berbuah seperti pohon ara.Orang-orang Israel tampak seperti pohon ara yang berdaun lebat tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Sementara, Bait Allah yang dibangun megah juga ingin menunjuk kepada orang Israel yang tidak menghasilkan buah sebab Bait Allah kerap kali dijadikan sarang penyamun seperti penipuan, pemerasan, dan pemungutan cukai.

    Saudara-saudari terkasih, dalam hidup ini kita harus dapat senantiasa dapat menghasilkan buah seperti kebaikan dan kebenaran sehingga orang lain datang dan menikmatinya. Biarlah orang lain itu seolah-olah bertumpu pada diri kita karena memang apa yang mereka butuhkan ada pada kita. Ada ungkapan 'lebih baik memberi daripada menerima'. Semoga hidup kita menghasilkan buah-buah yang dikehendaki oleh Allah sehingga kita dapat membantu orang lain.

Lentera Batin

BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon