Santo Katolik 1.0 Aplikasi Android

26 October 2015

Renungan Hari Kamis 29 Oktober 2015

Renungan Hari Kamis 29 Oktober 2015, Pelepas Dahaga, Renungan Harian, Santo Katolik Dot Com

Renungan Hari Kamis 29 Oktober 2015


Pelepas Dahaga


    Ada seorang frater yang pulang ke kampung halaman untuk berlibur sejenak sebelum kembali ke Seminari Tinggi. Saat setelah mengikuti misa hari Minggu di Paroki asalnya, si frater berjumpa dengan umat untuk sekedar berbincang santai. Ada seorang yang bertanya kepadanya perihal kapan ia akan ditahbiskan, karena baginya Paroki tersebut membutuhkan sosok imam muda yang energik. Si frater mengatakan bahwa tidak mungkin toh dirinya ditugaskan menjadi imam di Paroki asalnya, dengan dalih bahwa seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya. Beberapa umat yang disitu mendengar dan tertawa. Tampaknya ada kehausan dalam diri mereka untuk memiliki imam yang rela mati demi umat, kendati umat tersebut tidak mengerti dengan benar apa yang dikatakannya.

    Salah satu aspek terdalam dari pribadi manusia adalah "mudah merasa haus". Bagi bayi, haus adalah kebutuhan untuk mendapatkan susu. Setelah bayi diberi susu, riuh tangis hilang. Usia remaja, haus adalah kebutuhan untuk mendapat uang jajan lebih. Setelah diberi uang jajan yang besar, amarah pun padam.Usia dewasa, haus adalah mengenang mara remaja yang indah. Setelah sedikit reunian dan mungkin hura-hura, senyum mengembang di wajah. Menjadi tua, haus adalah mengharapkan generasi muda untuk lebih dari dirinya (jangan mengikuti sifat buruknya).

    Paragraf tersebut merupakan gambaran bagi kita yang terus meminta "pelepas dahaga", dan jarang bagi kita untuk memberikan "pelepas dahaga". Satu hal yang harus diwaspadai adalah, banyaknya totalitas aktif yang bergerak luar biasa hebat, padahal sungguh tanpa makna. Jika saja dari pribadi kita muncul adanya sadar diri dan mengatakan cukup, dan menjadi pelepas dahaga bagi orang lain, kita sudah menccicipi kehidupan seorang nabi. Mari kita semua memikirkan untuk menjadi pribadi yang penuh kasih untuk memberkan diri, merangkul mereka yang lemah, dan bersikap seperti induk ayam yang rela menjaga dan melindungi sampai mati keselamatan anak-anaknya.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon