14 January 2016

Renungan Hari Minggu 17 Januari 2016

Renungan Hari Minggu 17 Januari 2016, Perjamuan Surgawi, Renungan Harian, Santo Katolik Dot Com

Renungan Hari Minggu 17 Januari 2016


Perjamuan Surgawi


    Injil Yohanes yang kita baca hari ini bercerita tentang mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Mukjizat itu merupakan salah satu tanda dari ketujuh tanda yang dilakukan Yesus dalam Injil Yohanes ini, yaitu perkawinan di Kana. Perjauman pernikahan dalam tradisi Yahudi terjadi dalam waktu 7 hari. Maria dan Yesus datang pada hari ketiga. Singkatnya, mereka kehabisan anggur, dan Yesus mengadakan mukjizat perubahan air menjadi anggur.

    Injil tidak terlalu jelas mencatat perihal kedatangan Yesus ke Kana, apakah ada seorang murid Yesus yang berasal dari Kana? (bdk. Yoh 21:2), apakah Maria adalah kenalan dekat dari si pestawan? Itu tidak terlalu penting untuk kita ketahui. Mari kita beralih ke pertanyaan lain; atas restu siapakah terjadinya mukjizat itu? Mara? Atau Yesus-kah? maria yang pertama kali menyadari bahwa mereka kehabisan anggur, dan ia mengkomunikasikan kepada Yesus (ay 3-4). Kepasrahan Maria hadir dalam ay 5 "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu". Maria mengetahui tragedi kekurangan anggur, tapi Maria bukan penentu terjadinya tanda. Mana yang lebih penting, air menjadi anggur? Atau siapa yang melakukan tanda itu? Saudara-saudari terkasih, bukan air menjadi anggur yang terpenting, tetapi Pribadi yang memerintahkan terjadinya mukjizat itu yang terpenting. Yesus mau menekankan pada kita, bahwa atas perintah dari bapa-Nya, terkadilah mukjizat itu di hari ketiga.

    Di zaman ini, kebanyakan dari kita punya mental tinggal pakai, tinggal makan, dsb. sadarkah kita banyak orang yang berperan untuk menghasilkan itu semua. Semua yang kita pakai dan makan adalah hasil jerih payah banyak orang, dan kita mempunyai tanggungjawab atas semua itu. Perkawinan di Kana mengajarkan kepada kita, bahwa semua yang ada dihadapan kita ini adalah sarana untuk mengenal kebaiakan hati Allah (Yoh 3:16). Allah berharap agar kita mengerti kehadiran-Nya, sehingga kita tidak pernah kekurangan dalam kebaikan hati Allah.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon