17 January 2016

Renungan Hari Rabu 20 Januari 2016

Renungan Hari Rabu 20 Januari 2016, Pilihan Akan Kebenaran, Renungan Harian, Santo Katolik Dot Com

Renungan Hari Rabu 20 Januari 2016


Pilihan Akan Kebenaran


    Konsep bangsa Yahudi cacat merupakan bukti adanya dosa yang belu diakui di hadapan Allah. Orang cacat dengan sendirnya akan disingkirkan dari hidup bermasyarakat. Namun, orang cacat ini justru dimanfaatkan orang Farisi untuk menjatuhkan Yesus. Mereka mengamat-amati Yesus dengan maksud jahat. Mungkin inilah kesempatan baik bagi mereka jika Ia menyembuhkan si cacat pada hari Sabat. Yesus mengatakan lebih baik berbuat baik atau berbuat jahat pada hari Sabat. Yesus marah atas kedegilan mereka . Yesus marah tidak seperti layaknya marah yang pada umumnya manusia lakukan. Ia marah karena jemaat tidak melakukan pilihan yang benar. Manusia seharusnya memilih kebenaran, bukan hukum yang kaku dan mematikan. Hukum yang hanya dimanfaatkan demi keuntungan golongan tertentu.

    Kedegilan jemaat tersebut juga telah menyebar dan menjadi kedegilan kita. Kita tidak mampu dan tidak mau melakukan yang benar di hadapan Allah. Mata hati kita telah tertutup oleh pemikiran-pemikiran yang provan. Pemikiran demikian tampak dari cara kita hidup di dalam keluarga dan di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Seringkali kita malu melakukan kebenaran, karena takut dikucilkan, dianggap sok suci, sok baik, dsb. Apa yang dilakukan oleh anggota keluarga dan masyarakat pada umumnya kita ikuti begitu saja tanpa dikritisi terlebih dahulu. Padahal kebiasaan-kebiasaan selama ini belum tentu benar. Kita tidak berani mengubah ebiasaan lama. Hal yang seperti ini membuktikan bahwa kita "cacat" di hadapan-Nya. Saudara-saudari, Tuhan Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Marilah kita belajar dari-Nya untuk menjadi orang-orang yang bermentalkan gembala yang mengatasi kebiasaan yang tidak benar. Pertanyaan refleksi: apakah kita berani mengkritisi kebiasaan yang ada dalam keluarga dan masyarakat berdasarkan kebenaran Allah? Mari bermenung.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon