Santo Katolik 1.0 Aplikasi Android

01 February 2016

Renungan Hari Rabu 3 Februari 2016

Renungan Hari Rabu 3 Februari 2016, Kebenaran Selalu Objektif, Renungan Harian, Santo Katolik Dot Com

Renungan Hari Rabu 3 Februari 2016


Kebenaran Selalu Objektif


    Dalam kehidupan bermasyarakat, untuk memutuskan persoalan bersama biasanya kita mengadakan rapat terlebih dahulu. Dalam rapat tentu banyak ide atau pendapat yang tidak semuanya dapat diterima. Terkadang banyak pendapat yang diterima bukan karena pendapat yang cermelang, akan tetapi siapa yang mengatakannya. Pendapat atau ide diterima masih dipengaruhi latar belakang seseorang yang mengatakannya, status sosial, pendidikan, dan latar belakang keluarga. Tidak mengherankan keputusan yang seperti ini masih berat sebelah dan belum menjadi keputusan yang objektif, sehingga banyak pihak yang dirugikan. Disinilah letak ketidakmampuan kita melihat pendapat sebagai pendapat.

    hal ini juga terjadi dalam diri Yesus. Orang-orang Nazaret tidak melihat keistimewaan yang ada dalam diri Yesus. Tidak mengherankan mereka mempertanyakan dari mana asal-muasal kemampuan Yesus mengajar dan melakukan banyak mukjizat. Dalam konsep mereka ada dua kemungkinan dari mana kemampuan Yesus mengajar dan melakukan banyak mukjizat, yakni berasal dari Allah atau setan. Bagi mereka adalah tidak mungkin Yesus yang mempunyai latar belakang seperti itu dapat melakukan banyak mukjizat dan mengajar. Padahal mereka tidak melihat keistimewaan yang Yesus miliki. Dimata mereka Yesus hanyalah pemuda biasa, mereka tidak mampu melihat siapa Yesus sesungguhnya. Jika Yesus anak pejabat mungkin Ia akan lebih didengarkan dan dapat diterima orang-orang Nazaret. ajaran-ajaran-Nya juga tentu mudah diterima dan tidak mendapat pertentangan. Orang-orang Nazaret tidak mampu melihat dan menerima kebenaran yang ada dalam diri Kristus. Maka dari itu, perlukah kita bercermin dari kisah Yesus yang ditolak karena latar belakang yang Ia miliki. Pertanyaan refleksi "Apakah kita selama ini memandang kebenaran yang ada dalam diri seseorang secara objektif? Ataukah masih melihat siapa yang mengatakan kebenaran itu?"


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon