25 February 2016

Renungan Hari Sabtu 27 Februari 2016

Renungan Hari Sabtu 27 Februari 2016, Usaha dan Pendampingan, Renungan Harian, Santo Katolik Dot Com

Renungan Hari Sabtu 27 Februari 2016


Usaha dan Pendampingan


    Seorang anak terlihat sedang bersusah payah mengerjakan tugas dari sekolah. Ibunya mengamatinya dari kejauhan. berulang-ulang kali, anak itu menghapus apa yang telah ditulis di buku tugasnya. "Oh... mengapa aku selalu tidak bisa mengerjakan soal ini?" teriaknya. Mendengar teriakan anaknya, si ibu perlahan-lahan mendekatinya dan berkata, "Mana yang tidak bisa kau kerjakan, Nak?" Anak itu menunjukkan soal yang tidak bisa dikerjakannya kepada ibunya. Segera, si ibu duduk di sebelah anaknya dan berkata, "Mari kita kerjakan bersama!"

    Para pembaca yang terkasih, pesan bacaan Injil hari ini serupa dengan cerita di atas, yaitu tentang usaha dan pendampingan. Dalam bacaan Injil kita dapat melihat bagaimana si bungsu mengalami perubahan yang menakjubkan. Si bungsu yang telah dibutakan oleh nafsunya, kemudian sadar atas segala kesalahannya dan meminta maaf kepada si ayahnya. Kemudian, kita juga dapat melihat adanya dua reaksi yang berbeda atas pertobatan si bungsu, yaitu reaksi dari si ayah yang menerima pertobatan itu dan reaksi dari si sulung yang menolaknya. lalu, nilai-nilai apa saja yang dapat kita kaitkan dalam hidup sehari-hari?

    Ada dua nilai yang bisa kita renungkan pada hari ini. Pertama, tentang usaha. Sebagai orang Kristen, ada tuntutan yang tidak boleh diabaikan, yaitu mengusahakan kekudusan. Kekudusan jangan dulu diartikan sebagai keadaan suci tanpa noda. Namun, kekudusan diartikan pertama-tama sebagai panggilan untuk memperbarui diri terus menerus (berulang-ulang kali), sama seperti si anak yang mengerjakan soal yang sulit itu. Kedua, tentang pendampingan. Usaha untuk mencapai kekudusan selalu didampingi oleh Allah. Ini kebenaran yang tak bisa disangkal. Jika ASllah saja mau mendampingi kita, apakah kita juga mau mendampingi sesama dalam mengusahakan kekudusan atau malah jadi penghakim?


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon