05 March 2016

Renungan Hari Senin 7 Maret 2016

Renungan Hari Senin 7 Maret 2016, Pribadi yang dirindukan, Renungan Harian, Santo Katolik Dot Com

Renungan Hari Senin 7 Maret 2016


Pribadi yang dirindukan


    Ada sebuah pengalaman kecil yang saya dengar dari seorang frater yang hendak kerasulan ke sebuah stasi. Tibalah frater tersebut di depan Gereja, turun dari angkot dan mendekati oppung (sebutan nenek dalam bahasa Batak). "Oppung mau menyeberang?" "Iya tapi saya menunggu anak saya yang masih mengisi bahan bakar motornya." "Oppung takut menyeberang ya? Mai saya seberangkan." "Seandainya saya ini tidak buta, pastilah saya dapat menyeberang sendiri, terimakasih tawaranmu Nak".

    Kisah di atas menarik ketika saya renungkan kembali. Berhadapan dengan orang yang demikian sebenarnya saya dapat belajar banyak sesuatu. Nenek tersebut memiliki kepercayaan dan pengharapan yang sungguh meski dalam keadaan buta. Selain itu ketika dihubungkan dengan peristiwa Injil hari ini peristiwa seorang pemuda yang buta sejak lahir hendaknya dapat menggugah pembaca .

    Kecurigaan terhadap Yesus yang mengadakan penyembuhan pada hari Sabat itu membuat mereka tidak nyaman. Pasti Yesus bukan berasal dari Allah, sebab tidak mengindahkan tata aturan Yahudi tentang hari sabat. Itu alasan orang Farisi. Pribadi Yesus pada zaman-Nya menjadi pribadi yang dirindukan banyak orang, sekaligus ancaman bagi mereka yang tidak sesuai kehidupannya seturut kehendak Allah. Yesus menjadi pribadi yang dirindukan banyak orang, apalagi mereka yang rindu kesembuhan, baik karena kesaksian banyak orang atau karena percaya telah mengalami perjumpaan dengan-Nya.

    Tidak jarang kita seperti orang Farisi yang mencurigai kebaikan Allah yang tampak sehat fisik namun buta hatinya. namun menjadi tantangan bagi kita juga, dalam setiap keterbatasan kita apakah kita mampu melihat kehendak Allah dalam hidup seperti pemuda buta yang disembuhkan-Nya itu? Sudahkah kita menjadi pribadi yang dirindukan oleh banyak orang dengan perbuatan baik yang dapat kita lakukan untuk mereka? Atau apakah kita justru mencurigai kebaikan Allah bagi mereka yang berbuat baik? Mari bermenung.


BERI KOMENTAR

Silahkan beri komentar dengan bijak
EmoticonEmoticon